Kini aku sedang menggenggam seikat bunga di tanganku..
Mereka cantik, namun ada satu bunga yang menarik perhatianku
“Hai bunga kecil yang menawan, kau terlihat cantik dan indah. Warnamu merah, sangat elok sekali, warna yang sangat berani”
Bunga itu menjawab “Kamu benar, aku elok dan rupawan tapi aku sangat angkuh dan sombong, aku juga tidak suka mengalah. Apa kau masih tetap mencintaiku?”
Entahlah..
Kini aku menengok pada sosok bunga disampingnya..
“Hai, siapa namamu? Kau terlihat polos dan suci. Dirimu damai bukan main”
“Namaku Melati, asal kau tau wahai manusia. Putih bukan berarti harus suci dan jauh dari dosa. Dosaku amat banyak, tuhan mungkin kini sedang kebingungan menghitung dosa-dosaku. Dan jika aku terlihat damai dari luar, sebenarnya hatiku kini tengah berkecamuk hebat bukan main. Apa kau yakin tetap mencintaiku?”
Aku tidak tahu..
Kini aku menengok bunga terakhir disampingnya..
“Sebenarnya, aku tidak ingin menyapamu, warnamu buruk dan menakutkan. Sejujurnya aku sangat membencimu karna kau terlihat kusam dan jelek”
Bunga terakhir tetap tersenyum mendengar makian itu, lalu ia menjawab “Kau benar, warnaku buruk, warnaku terkesan seperti kotoran manusia. Tapi apa kau tau wahai manusia? Akulah sang keabadian, justru aku yang teramat dekat denganmu, tapi kau selalu acuh, seakan bisa menghindariku. Padahal aku selalu mengikutimu dari belakang. Karena aku adalah kematian..”
Bandung, 13 September 2015
17:30 WIB
Ditulis oleh Vivi Tamia
*Note : ini adalah tulisan tahun 2015 saat aku masih duduk di bangku kuliah. Meski singkat dan sepele, entah kenapa aku menyukainya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar