Pagi-pagi sekali aku sudah melamun didepan teras rumah kecilku di kampung. Menatap langit yang terus bergerak perlahan, menerbangkan imajinasiku tentang kehidupan. Terbang dan kubiarkan terus terbang. Menghela nafas sesekali menyadarkanku bahwa aku masih hidup.
Mendengarkan musik akan membuat aku merasa nyaman dan tenang, maka aku beranjak dari lamunanku mengambil ponselku yang tergeletak begitu saja di meja yang sudah satu perangkat dengan headsetnya. Aku mulai menekan tombol musik dan alunan nada sudah mengaliri gendang telingaku.
Waktu..entah kenapa selalu menjadi misteri untuk semua anak Hawa. Terus bergerak tiada henti meski sesekali terasa lambat melaju. Untuk sebagian orang terasa cepat tapi untuk sebagian yang lain terasa lambat. Untuk sebagian orang terasa menyenangkan tapi untuk sebagian yang lain terasa menjemukan. Untukku, waktu sesalu saja aneh. Aku menuntut cepatnya laju waktu tapi aku pula menuntut waktu bergerak lamban. Jadi waktu ataukah aku yang tidak wajar?
Suara sambaran petir menyadarkanku dari lamunan sang waktu. Aku tersadar dan kini aku melihat hujan yang mulai membasahi tanah bumi. Ah..hujan sama saja misterinya bagiku, untuk sebagian orang menyenangkan menatap hujan tapi untuk sebagian yang lain menyakitkan bersama hujan. Untukku, hujan sama anehnya dengan waktu. Terkadang aku mensyukuri karunia hujan tapi terkadang pula aku mengutuk hujan membersamaiku. Jadi hujan ataukah aku yang mulai sinting?
Ah aku mulai mengigau ternyata..
Rancaekek, 25 Januari 2019
10.39 WIB
Ditulis oleh Vivi Tamia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar