Sabtu, 11 Juli 2020

#Ceritapendek Perempuan yang Tertawa Memecah Langit


Gambar ini milik pribadi

Malam sudah semakin larut. Ruko-ruko yang berjejer disepanjang jalan menuju kampusku telah tertutup rapat sudah sejak setengah jam lalu. Lalu-lalang kendaraan tak seramai tadi. Hanya ada beberapa mobil besar saja yang melintas, apalagi aspal nampak basah karena diguyur hujan sejak petang.

Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju kosku di tikungan jalan Gundala. Aku sendirian, baru pulang dari kampus sehabis kumpul bersama beberapa kawan. Tadi mereka menawarkanku tumpangan, tapi aku menolak karena kosku tidak terlalu jauh sesungguhnya.

Ditengah jalan, telepon berbunyi dari saku sebelah kanan celana jeans bututku. Telepon dari Nindia. Teman sekelasku dikampus yang sudah satu tahun menikah dengan seorang Dosen dijurusanku. Anaknya baru satu, dia menginjak usia delapan bulan pekan ini.

Kutanyai maksud dan tujuannya meneleponku malam-malam begini. Dia menjawab ingin bertemu, kalau bisa besok siang di restoran cepat saji yang kapitalis itu, katanya. Oke kataku. Aku tidak terlalu banyak bertanya mengapa dia mengajakku bertemu, toh besok dia jelaskan juga apa maksudnya. Tidak aku ambil pusing telepon dari Nindia. Lalu kututup. Aku melanjutkan perjalananku yang sempat melambat. Jalanan yang lengang dan tanahnya yang basah selalu menimbulkan perasaan sedih bagiku, entah kenapa selalu ada perasaan kesepian ketika aku melihat lengangnya jalanan dan tanah yang basah karena hujan.

Keesokan paginya aku terlambat bangun, hari sudah siang. Aku lupa sudah punya janji dengan Nindia. Bergegas aku menyambar telepon, ternyata panggilan masuk sudah ada delapan disana. Segera aku telepon balik karibku itu dan memohon maaf atas keterlambatanku. Suaranya agak parau memarahiku, dia bilang sudah siap dari tadi sementara aku baru bangun. Aku berjanji padanya akan segera berangkat tanpa perlu mandi. Aku menutup telepon seketika, tapi sebelum benar kututup ada suara pecahan kaca disana. Aku tidak begitu yakin, buru-buru aku pergi kekamar mandi gosok gigi dan cuci muka. Mengganti celana tidur dengan jeans kemarin malam lalu bersegera mengenakan kemeja belel dan langsung memacu motorku menuju restoran cepat saji diujung jalan kampusku.

Sesampainya disana, aku segera memesan es kopi kesukaanku dan mencari tempat duduk yang kiranya nyaman untuk mengobrol dengan Nindia. Tak sampai lima menit, Nindia datang sambil menggendong anak perempuannya yang baru delapan bulan itu. Tadinya aku ingin senyum sumringah menyapa kawan karibku itu namun urung seketika melihat jejak raut diwajahnya. Ia nampak lelah sekali, wajahnya yang putih membuat kantung matanya semakin nyata terlihat menghitam seperti kantung mata Pak SBY, Nindia cepat-cepat duduk didepanku sambil terus berusaha menidurkan anaknya dalam gendongan. Dalam hati aku ingin bertanya setengah mati: apa yang terjadi. Tapi urung, aku menunggu saja dia bercerita.

“Mau pesan apa?” Cuma itu yang keluar dari mulutku.

Nindia buru-buru menggeleng “Tak perlulah, aku cuma sebentar” katanya, aku mengagguk. Nindia terlihat membenarkan duduknya. Ia menatapku ragu, seperti menimang-nimang sesuatu “Kau masih jadi relawan ditempat pengaduan kekerasan itu kan?” aku mengangguk lagi. Sudah hampir berjalan bulan kelima, aku memang aktif menjadi relawan disebuah lembaga pengaduan bagi perempuan dan anak yang mendapatkan tindak kekerasan.

Nindia menatapku agak ragu, tapi ia bercerita juga pada akhirnya. Ia mengaku bahwa suaminya, yang dosen itu telah melakukan kekerasan padanya. Semuanya bermula pada suatu pagi di hari Minggu ketika Nindia memergoki suaminya sedang menerima telepon dari seorang Mahasiswi, awalnya dia beralibi bahwa Mahasiswi yang menelepon itu sedang menanyakan tugas perkuliahan. Tapi kemudian Nindia mulai curiga saat ia menemukan bekas gincu pada kerah kemejanya. Suaminya merasa tak terima terus didesak untuk megaku, sampai akhirnya pukulan pertama meluncur juga, pipi kiri Nindia lebam dan ia diancam untuk tidak perlu banyak bertanya.

Semenjak hari itu, Nindia semakin malas meladeni suaminya sendiri. Saat suaminya meminta jatah untuk tubuhnya, Nindia menolak karena bercinta tidak akan nikmat bila dilakukan atas keterpaksaan. Suaminya menjadi murka dan tak jarang ia mengikat tangan dan kaki Nindia diatas ranjang lalu menyetubuhinya seolah dirinya hanya seonggok daging yang tidak memiliki perasaan.

Sampai pada suatu hari, setelah pulang dari rumah sakit memeriksakan kondisi anaknya yang demam tinggi, Nindia memergoki suaminya sedang makan di sebuah restoran bersama seorang perempuan secara terang-terangan. Perempuan itu mengusap-usap wajah suaminya dengan mesra dan suaminya terlihat senang tapi juga malu-malu. Merasa tidak tahan, Nindia menghampiri mereka berdua lalu berteriak marah-marah dan menampar wajah suaminya hingga menjadi pusat perhatian. Nindia tahu suaminya sangat murka sekaligus malu, lalu Nindia diseret agar masuk mobil dan di caci maki. Rambutnya dijambak, kepalanya dibenturkan pada dasbor mobil. Nindia menangis. Anaknya ikut menangis.

Meratapi rumah tangga yang semakin hari kian berantakan, akhirnya Nindia jatuh pada sebuah kesimpulan untuk berani menghubungiku dan menceritakan semuanya. Ia mengaku ingin melaporkan suaminya dan meminta pertolonganku untuk menunjukkan jalannya.

Nindia menggenggam tanganku “Tolong bantu aku...” katanya sambil menangis.

Aku mengangguk, aku mengerti. Aku mengelus-elus tangan Nindia untuk sekedar mengurangi bebannya yang amat berat. Ini bukan kali pertama aku mendengar cerita yang kurang lebih sama: suami yang menyiksa istrinya. Pandanganku beralih pada anak dalam gendongan Nindia. Dia masih kecil tapi harus ikut merasakan beban ibunya yang berat. Sayang sekali dia harus lahir dengan kelakuan Bapaknya yang keparat.

Aku menghela nafas berat sebelum berkata, tapi sebelum aku mengeluarkan suara, tiba-tiba telingaku mendengar tipis-tipis suara seseorang menyebut nama Nindia. Semakin lama suara itu semakin jelas. Benar saja, suami Nindia di luar sana sedang berteriak kalap. Mulutnya penuh sumpah serapah yang tidak jelas, tentu saja dengan cepat menjadi pusat perhatian. Dua orang satpam sedang menghadang agar tidak masuk kedalam.

Nindia setengah takut, berlari bersembunyi dibalik tubuhku, tapi itu hal yang sia-sia suaminya sudah tahu bahwa Nindia sedang bersamaku. Aku mencoba menenangkan Nindia agar tidak perlu khawatir, dengan bilang “Ada aku disini”. Padahal tentu saja, aku juga ketakutan setengah mati, tak ada yang lebih mengerikan menghadapi suami keparat yang sedang kalap, seperti kerasukan setan!

Gelagat ketakutan Nindia, membuat semua orang cepat sadar bahwa yang sedang dicari oleh laki-laki kalap diluar sana adalah dirinya. Aku mencoba membujuk Nindia untuk mau keluar dan menemui suaminya. Nindia menggeleng, tentu saja.

Aku menghembuskan nafas, menguatkan diri sendiri. Dengan sok berani, aku memilih untuk keluar dan menemui suami Nindia yang juga adalah dosenku. Tangan-tangan suami Nindia masih ditahan oleh dua orang satpam agar ia tidak bisa masuk kedalam dan membuat keributan yang lebih dari ini. Setelah melihat aku menghampiri, kedua satpam itu mulai mengurai tahanannya.

Baru saja aku berkata “Pak...”

Suami Nindia sudah menamparku lebih dulu dan segera berlari masuk kedalam restoran cepat saji lalu menyeret Nindia keluar. Nindia berteriak mencoba menolak. Anak dalam gendongan Nindia terbangun ikut menjerit. Aku terdiam merasakan perih di pipi kiriku. Kedua satpam kebingungan. Orang-orang mengabadikan dengan kamera ditangan. Perkelahian suami-istri itu jadi tontonan.

Nindia mendorong tubuh suaminya sekuat tenaga sampai ia ikut terjungkal. Entah kekuatan apa yang merasukinya, Nindia meraih sebongkah batu sebesar kepalan tangan dan berlari menuju suaminya lalu ia hantamkan batu itu ke kepala suaminya keras sekali. Tanpa ditunggu, darah mengocor dari kepala suaminya yang bonyok. Nindia malah tertawa-tawa melihat suaminya tak sadarkan diri.

“MATILAH KAU SETAN!!!” teriak Nindia puas.

Kejadian itu cepat sekali, kakiku lemas. Aku tekejut setengah mati. Orang-orang sudah tidak mengabadikan kejadian itu, mereka menutup mulutnya masing-masing. Seketika hening. Yang terdengar hanya bising suara tertawa Nindia yang menggema memecah langit.

Februari – Juni 2020

Ditulis oleh Vivi Tamia

Senin, 06 Juli 2020

#Tuturkata Kisah Tentang Waktu dan Hujan yang Mulai Sinting dan Tidak Wajar


Gambar ini milik pribadi

Pagi-pagi sekali aku sudah melamun didepan teras rumah kecilku di kampung. Menatap langit yang terus bergerak perlahan, menerbangkan imajinasiku tentang kehidupan. Terbang dan kubiarkan terus terbang. Menghela nafas sesekali menyadarkanku bahwa aku masih hidup.

Mendengarkan musik akan membuat aku merasa nyaman dan tenang, maka aku beranjak dari lamunanku mengambil ponselku yang tergeletak begitu saja di meja yang sudah satu perangkat dengan headsetnya. Aku mulai menekan tombol musik dan alunan nada sudah mengaliri gendang telingaku.

Waktu..entah kenapa selalu menjadi misteri untuk semua anak Hawa. Terus bergerak tiada henti meski sesekali terasa lambat melaju. Untuk sebagian orang terasa cepat tapi untuk sebagian yang lain terasa lambat. Untuk sebagian orang terasa menyenangkan tapi untuk sebagian yang lain terasa menjemukan. Untukku, waktu sesalu saja aneh. Aku menuntut cepatnya laju waktu tapi aku pula menuntut waktu bergerak lamban. Jadi waktu ataukah aku yang tidak wajar?

Suara sambaran petir menyadarkanku dari lamunan sang waktu. Aku tersadar dan kini aku melihat hujan yang mulai membasahi tanah bumi. Ah..hujan sama saja misterinya bagiku, untuk sebagian orang menyenangkan menatap hujan tapi untuk sebagian yang lain menyakitkan bersama hujan. Untukku, hujan sama anehnya dengan waktu. Terkadang aku mensyukuri karunia hujan tapi terkadang pula aku mengutuk hujan membersamaiku. Jadi hujan ataukah aku yang mulai sinting?

Ah aku mulai mengigau ternyata..

 

Rancaekek, 25 Januari 2019

10.39 WIB

Ditulis oleh Vivi Tamia

Jumat, 03 Juli 2020

#Tuturkata Cerita Tentang Aku dan Sang Bunga Bangkai

Gambar ini milik pribadi

Kini aku sedang menggenggam seikat bunga di tanganku..

Mereka cantik, namun ada satu bunga yang menarik perhatianku

“Hai bunga kecil yang menawan, kau terlihat cantik dan indah. Warnamu merah, sangat elok sekali, warna yang sangat berani”

Bunga itu menjawab “Kamu benar, aku elok dan rupawan tapi aku sangat angkuh dan sombong, aku juga tidak suka mengalah. Apa kau masih tetap mencintaiku?”

Entahlah..

Kini aku menengok pada sosok bunga disampingnya..

“Hai, siapa namamu? Kau terlihat polos dan suci. Dirimu damai bukan main”

“Namaku Melati, asal kau tau wahai manusia. Putih bukan berarti harus suci dan jauh dari dosa. Dosaku amat banyak, tuhan mungkin kini sedang kebingungan menghitung dosa-dosaku. Dan jika aku terlihat damai dari luar, sebenarnya hatiku kini tengah berkecamuk hebat bukan main. Apa kau yakin tetap mencintaiku?”

Aku tidak tahu..

Kini aku menengok bunga terakhir disampingnya..

“Sebenarnya, aku tidak ingin menyapamu, warnamu buruk dan menakutkan. Sejujurnya aku sangat membencimu karna kau terlihat kusam dan jelek”

Bunga terakhir tetap tersenyum mendengar makian itu, lalu ia menjawab “Kau benar, warnaku buruk, warnaku terkesan seperti kotoran manusia. Tapi apa kau tau wahai manusia? Akulah sang keabadian, justru aku yang teramat dekat denganmu, tapi kau selalu acuh, seakan bisa menghindariku. Padahal aku selalu mengikutimu dari belakang. Karena aku adalah kematian..”

 

Bandung, 13 September 2015

17:30 WIB

Ditulis oleh Vivi Tamia


*Note : ini adalah tulisan tahun 2015 saat aku masih duduk di bangku kuliah. Meski singkat dan sepele, entah kenapa aku menyukainya..